Sobat, pernahkah kau merasa bahwa kau sedang dalam titik terendah di bumi? Ketika mimpi, cita-cita, harapan yang kau usahakan ternyata tak kunjung kau dapat. Mungkin memang bukan karena ulahmu semata, tetapi, pernahkah? Pernahkah kau merasa tak ada yang bisa dijadikan tempat bercerita selainNya, dan bahkan kepadaNya pun kau hanya mampu menjelaskan dengan tangisan.
Tahukah kau, sobat, berat rasanya menerima ketentuan yang tak kita harapkan. Dan kini, aku, mau tak mau harus menjalaninya. Harus mampu berusaha untuk menerima, dan mensyukurinya. Apapun keadaannya. “Kita bukan disuruh untuk mengatasi masalah,” kata Ustadz Salim dalam menyampaikan materi beberapa waktu lalu, “tapi untuk menghadapinya. Karena kita punya Yang Maha Tinggi untuk mengatasinya. Maka tugas kita hanyalah menghadapi dengan menjadi sebaik-baik hamba.” indah sekali penuturan beliau. Tapi, tentu tak semudah itu. Tentu saja.
Di sinilah derajat kita sebagai hamba. Di sinilah posisi penghambaan kita. Di sinilah tolok ukur keimanan kita. Nantinya. Apakah ketika tahap untuk naik level itu datang kita mampu menghadapinya, atau justru menyerah dengan membenci? Di sinilah.... Sobat. Di sini.
Bukankah masing-masing kita tahu bahwa; apa yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita begitupun sebaliknya? Sebagaimana Allaah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 216 : “... boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan Allaah Maha Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
Sobat, tahukah kau? Manusia diuji dengan dua hal: oleh hal yang mereka sukai lalu mereka mendapatkannya; atau mereka harus melepaskan suatu hal yang mereka sukai demi menerima yang lebih baik. Hidup ini sama dengan ujian. Kalau kau ingin naik level, maka kau harus lulus menghadapi ujianmu. Seberapa berat, besar, dan sulit ujian itu kau harus tetap menghadapinya. Tak ada hidup yang tak dibersamai dengan ujian. Karena nyatanya, sahabat terbaik yang mampu menaikkan level kita adalah masalah yang senantiasa bersama kita. Mereka membesarkan kita. Mereka memampukan kita melihat dari berbagai perspektif, dari bermacam sudut pandang. Mereka; masalah, mendewasakan kita. Tak perlu kau takut untuk menghadapinya, karena hakikatnya mereka selalu membersamai kita. Dimanapun, kapanpun.
Dan kini, yang kau butuhkan hanya percaya. Cukup percaya. TaqdirNya akan selalu baik. Demi Allaah. Dengannya kita suka atau tidak. Dengannya kita minta atau menolak. Ia akan tetap memberikannya untukmu. Karena dalam hal ini, ada sesuatu yang murni haqNya. Ada sesuatu yang murni haqNya.
Maka mulai saat ini, atas segala hal yang senantiasa membersamai, ucapkanlah; ahlan wa sahlan.
Komentar
Posting Komentar