Surat Tanpa Alamat #1

Hari ini, izinkan aku untuk berbicara pada jiwamu.
Hey kau. Apa kabar? Hope you well, and do take care. Allaah selalu bersama kita.
Sudah lama, ya? Tapi yang klasik itu terkadang mengagumkan. Benarkah? Haha. Kau memang cukup mengagumkan. Tapi, sayang, bahkan untuk sekadar mengakuinya pun aku tak pernah memiliki daya. Memang lemah kali diri ini. Tapi, sebuah pengakuan, apakah penting untukmu? Jika memang begitu adanya, akan coba kukumpulkan energi supaya tak lagi gagu. Agar semua rahasia menjadi tak ada rahasia. Biar kita sama-sama mengerti.

Mungkin kau akan bertanya: mengerti apa? Apa yang harus dimengerti? Ya. Di sinilah. Ini. Ini hal yang perlu untuk kau mengerti, dan juga aku mengerti. Tentang mungkin, siapa berharap siapa, atau siapa berharap apa. Tentang harapan. Entah aku yang mulai dulu, atau justru kau yang menyilakanku untuk seperti itu.

Kurasa, tulisan ini takkan mengenal ujungnya akan bermuara ke mana. Kau tahu, kita terlalu kesulitan untuk menebak. Ah, bukan kita. Tapi aku. Nyatanya, aku yang sulit untuk menafsirkan ini semua. Aku, yang selalu berusaha untuk menebak-nebak. Aku, yang selalu penasaran. Dan kau, tak pernah. Sekalipun, nampaknya tak pernah. 

Tapi, dalam buku Cinta Adalah Perlawanan milik Azhar Nurun Ala, katanya:
kebahagiaan tidak pernah bergantung pada kepemilikan kita atas sesuatu, bukan? 

Maka usai paragraf ini berakhir,  tak ada lagi pintu yang perlu diketuk. Tak ada lagi kunci yang mesti dicari. Biarkan semuanya berjalan begitu saja bersama doa-doa terbaik.




Sehari sebelum Ahad.
Di Cisitu Lama.

Komentar