Surat Tanpa Alamat #3

Bisakah perasaan yang tak terucap dan tindakan yang tak terlihat, dipahami? -Azka Zakiyyatuddin.

Maaf. Jika hingga saat ini, bagimu, aku terlalu lihai untuk menyimpan semuanya. Rapat-rapat.
Bukan... Bukan karena tak ingin berbagi. Bukan... Hanya saja, ini bentuk kekhawatiranku atas hal yang - entahlah - belum bisa kumengerti sebelumnya.

Kuharap kau mau mengerti.
Bahwa sejujurnya, aku memerlukanmu. Benar-benar perlu. Menjadi penyeimbang. Atau... Menjadi apapun yang kau mau.

Maka maafkan...
Tolong. Kumohon. Maafkan...

Tahukah kau bahwa perjuangan butuh waktu...?
Maka, mari, siapkan waktu untuk perjuangan yang akan, sedang, dan sudah kita mulai.

Maka, siapkah kau?
.
.
.
.
.
Di bawah basah langit abu cisitu.

Komentar